Surat Kabar sebagai Media Kritik Sosial di Indonesia 1966-1974
Abstrak
Penelitian ini dimaksudkan untuk memaparkan peran surat kabar sebagai media kritik sosial pada masa awal konsolidasi politik Orde Baru hingga Peristiwa 15 Januari 1974. Setelah Soekarno dilengserkan, Soeharto naik ke tampuk kekuasaan sebagai pejabat presiden pada tahun 1966, sebelum dilantik oleh MPRS sebagai presiden Indonesia pada tahun 1967. Surat kabar oposisi yang dibredel pada rezim Soekarno, seperti Indonesia Raya dan lain-lain, diizinkan terbit kembali. Beberapa surat kabar baru seperti Harian KAMI, Mahasiswa Indonesia, Indonesia Raya, dan Mimbar Demokrasi, berpartisipasi dalam ‘demokratisasi berumur pendek’ sebelum beralih ke fase otoritarianisme setelah kerusuhan 15 Januari 1974. Artikel ini akan membahas proses transisi dari Demokrasi Terpimpin ke Orde Baru, proses konsolidasi Orde Baru, peran surat kabar sebagai media kritik sosial antara 1966-74, dan respon pemerintah Orde Baru terhadap kritikan-kritikan yang dilontarkan oleh berbagai badan pers. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan artikel ini yaitu melalui kajian pustaka melalui buku-buku dan jurnal yang relevan dengan topik penelitian serta observasi arsip berupa surat kabar, namun dibatasi pada empat surat kabar seperti Indonesia Raya, Harian KAMI, Mahasiswa Indonesia, dan Mimbar Demokrasi.
Referensi
Crouch, H. A. (2007). The Army and Politics in Indonesia. Equinox Publishing.
Fatah, E. S. (2010). Konflik, Manipulasi, dan Kebangkrutan Orde Baru: Manajemen Konflik Malari, Petisi 50, dan Tanjung Priok. Jakarta: Burung Merak Press.
Gottschalk, L. (1986). Mengerti Sejarah. Jakarta: UI Press.
Hasibuan dkk. (2011). Hariman dan Malari: Gelombang Aksi Mahasiswa Menentang Modal Asing. Jakarta: Gramedia.
Hill, D. T. (2011). Pers di Masa Orde Baru. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
________. (2011). Jurnalisme dan Politik di Indonesia: Biografi Kritis Mochtar Lubis (1922-2004) sebagai Pemimpin Redaksi dan Pengarang. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Kuntowijoyo. (2005). Pengantar Ilmu Sejarah. Bentang Pustaka.
Nasution, A. H. (1967). Penegakan, Pembinaan, dan Pengisian Orde Baru. Jakarta: Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara.
Njoto. (1958). Pers dan Massa. Jakarta: Pustaka Rakjat.
Nuryanti, R. (2008). Tragedi Sukarno: Dari Kudeta sampai Kematiannya. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Raillon, F., Tamara, N., & Simanjuntak, E. S. (1985). Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia: Pembentukan dan Konsolidasi Orde Baru 1966-1974. Jakarta: LP3ES.
Ricklefs, M. C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Jakarta: Penerbit Serambi.
Samsudin. (2004). Mengapa G30S/PKI gagal?: Suatu analisis. Yayasan Obor Indonesia.
Siregar, A. E. (1983). Pers Mahasiswa Indonesia: Patah Tumbuh Hilang Berganti. Jakarta: PT. Karya Unipress.
Sjamsuddin, H. (2007). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Soe, H. G. (1989). Catatan Seorang Demonstran. Jakarta: LP3ES.
Steele, J. E. (2005). Wars within: The story of Tempo, an independent magazine in Soeharto's Indonesia. Equinox Publishing.
Surjomihardjo, A. (2002). Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia. Jakarta: Kompas.
Suwirta, A. (2018). Pers dan Kritik Sosial pada masa Orde Baru: Studi Kasus Pers Mingguan Mahasiswa Indonesia di Bandung, 1966-1974. Mimbar Pendidikan, 3(2), 113-136.
Syukur, A., dkk. (2012). Indonesia dalam arus sejarah: Orde baru dan reformasi. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve
##submission.copyrightStatement##
##submission.license.cc.by-sa4.footer##



